Selasa, 13 Desember 2016

Teknik-Teknik Pembelajaran


NAMA           : WINDA EKA LESTARI
NIM                : ACC 114 059
MK                 : STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Tugas :
Jelaskan dan berikan ilustrasi dari teknik pembelajaran berikut :

1). Inkuiri atau menemukan
            Jawaban : metode atau teknik pembelajaran inkuiri adalah suatu teknik atau metode pembelajaran yang menekankan siswa dalam memperoleh informasi dengan cara proses berpikir logis dan analitis untuk memecahkan masalah. Metode inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran dengan penelaahan sesuatu yang bersifat mencari secara kritis, analisis, dan argumentative (ilmiah) dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju kesimpulan  (Usman, 1993:124).Metode inkuirimemberikan perhatian dalam mendorong diri siswa mengembangkan masalah. Sudyna (1986:21) mengemukakan bahwa inkuiri adalah metode mengajar yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah.Metode inkuiri merupakan metode discovery artinya suatu proses mental yang lebih tingkatannya (Anita, 2001:1-4). Upaya mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang dibutuhkan siswa untuk membantu memecahkan masalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memperoleh jawaban atas dasar rasa ingin tahu merupakan bagian proses inkuiri. Keterlibatan aktif secara mental dalam kegiatan belajar yang sebenarnya. Inkuiri secara kooperatif memperkaya cara berpikir siswa dan mendorong mereka hakekat timbulnya pengetahuan tentative dan berusaha menghargai penjelasan.Inkuiri atau penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya (Oemar Hamalik, 2001:219). Penemuan yang dilakukan tentu saja bukan penemuan yang sesungguhnya, sebab apa yang ditemukan itu sebenarnya sudah ditemukan orang lain. Jadi penemuan disins adalah penemuan pura-pura atau penemuan siswa yang bersangkutan saja.Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwametode inkuiriadalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.
Langkah-langkah dalam proses inkuiri adalah (Sagala, 2003:97):1.Menyadarkan peserta didik bahwa mereka memiliki keingintahuan terhadap sesuatu. 2.Perumusan masalah yang harus dipecahkan peserta didik. 3.Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis. 4.Mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis. 5.Menarik kesipulan jawaban atau generalisasi. 6.Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dari situasi baru.Strategi pelaksanaan metode inkuiri Strategi pelaksanaan metode inkuiri adalah sebagai berikut (Mulyasa 2006:235):1.Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. Sebelum memulai pelajaran guru guru harus memahami sejauh mana peserta didik memiliki persepsi terhadap materi tersebut. Kemudian guru dan peserta didik bersama-sama membandingkan persepsi dengan berbagai pendapat atau teori yang sudah ada. 2.Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membaca atau menjawab pertanyaan serta pekerjaanrumah. 3.Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik. 4.Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah mereka pelajari agardapat dipahami. 5.Guru memberikan penjelasan informasi sebagai pelengkap dan ilustrasi terhadap data yang telah disajikan. 6.Mendiskusikan aplikasi dan melakukan sesuai dengan informasi tersebut. 7.Merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2). Konstruktivisme
Jawaban : Teori konstruktivisme adalahsuatu teori belajar yang menekankan kepada siswa bahwa"para siswa sebagai pembelajar tidak boleh menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktifharus membangun pengetahuan secara individual."  Teori ini berpandangan bahwa siswa yang berinteraksi dengan berbagai obyek dan peristiwa akan lebih mudah memperoleh dan memahami pola-pola terhadap obyek dan peristiwa tersebut. Dengan demikian siswa sesungguhnya mampu membangun konseptualitas dan pemecahan masalah mereka sendiri. Oleh karena itu kemandirian dan kemampuan berinisiatif dalam proses pembelajaran sangat didorong untuk dikembangkan. Para ahli konstruktivisme memandang bahwa belajar merupakan hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan mencocokan informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka ketahui. Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk pemahaman mereka sendiri.
Adapun ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah :1.Menekankan pada proses belajar bukan mengajar.2.Mendorong terjadi kemandirian dan inisiatifbelajar pada siswa.3.Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.4. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil.5.Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan.6. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.7. Menekankan konteks siswa dalam belajar.8. Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata.10. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu pada siswa.11. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.12. Berdasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip teori kognitif.13. Banyak menggunakan terminologi kognitifuntuk menjelaskan proses pembelajaran, seperti prediksi, infersi, kreasi dan analisis.14.Menekankan bagaimana siswa belajar.15.Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog dan diskusi dengan siswa lain dan guru.16.Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.17.Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata.
Dari ciri-ciri teori konstrutivisme diatas padaaplikasinya teori ini memiliki peranan yang baik di dalam kelas. Diantaranya teori ini mampu mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar, maksudnya adalah dengan menghargai gagasan-gagasan atau pemikiran siswa dalam berpikir mandiri berarti guru membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Para siswa yangmerumuskan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menganalisis serta menjawabnya berati telah mengembangkantanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta telah menjadi pemecah masalah (problem solver). Disisi lain dengan teori ini seorang guru mampu mengajukan pertanyaan terbuka  dan memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk merespon dan menjawabnya. Dengan aktivitastersebut teori konstruktivisme akan lebih memudahkan seorang murid untuk menghubungkan dan merangkum konsep-konsep melalui analisis, prediksi, justifikasi dan mempertahakan gagasan-gagasan yang telah dijawabnya.Dari beberapa analisis diatas sebenarnya dapat disimpulkan bahwa teori konstruktivisme mampu mendorong kemampuan siswa untuk berpikir kritis serta terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi bersama guru dan siswa lainnya. Selainitu siswa mampu terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi.
3). SETS (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat)
Jawaban : pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat.Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
 Teknologi lingkungan dan masyarakat (SETS) adalah pengindonesiaan dari Science-Technology-Society (STS) yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, dan selanjutnya berkembang di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA, mendefinisikan pendekatan ini sebagaibelajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Dengan volumeinformasi dalam masyarakat yang terus meningkat dan kebutuhan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih mendalam, maka pendekatan SETS dapat sangat membantu bagi anak. Oleh karena pendekatan ini mencakup interdisipliner konten dan benar- benar melibatkan anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai–nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari -hari.Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (SETS) dalam pandangan ilmu-ilmu sosial danhumaniora, pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi (Poedjiadi, 2005). Menurut Raja (2009), keputusan yang dibuat oleh masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya. Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk menyimpan informasi. Peranan penting yang dimiliki oleh teknologi dapat berfungsi sebagai sarana tindakan danpenyidikan dalam pendekatan SETS. Data juga menyiratkan sifat ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang di semua masyarakat. Sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma -norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi (Widyatiningtyas, 2009). Menurut Widyatiningtyas (2009), pendekatan SETS dapat menghubungkan kehidupan dunianyata anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar sains. Proses pendekatan ini dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak dalam mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah, mempertimbangkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan tertentu.Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan sains secara khusus, yaitu untuk meningkatkan pengertianterhadap dunia alamiah(Amien, 1992 dalam Widyatiningtyas, 2009). Untuk penyusunan materi pendidikan sains, hendaknya merupakan akumulasi dari konten,proses, dan konteks. Konten, menyangkut hal -hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model, dan terminologi. Proses, berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan konten. Konteks, berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Benneth et. al. (2005) melaporkan, bahwa pendekatan SETS merupakan pendekatan berbasis konteks yang memiliki peranan yangsangat penting dalam memotivasi anak dan mengembangkan keaksaraan ilmiah mereka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berkemampuan rendah.Dengan demikian, tujuan pendekatan SETS adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya (Pudjiadi, 2005).Menurut Rusmansyah (2003) dalam Aisyah (2007), pendekatan SETS dilandasi oleh tiga hal penting yaitu:1. Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.2. Proses belajar-mengajar menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa anak membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya denganlingkungan.3. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah  pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi.
Program pembelajaran dengan pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:1. Identifikasi masalah-masalah setempat.2. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan  masalah.3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah.5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.6. Isi dari pembelajaran bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimanasains dan teknologi berdampak di masa depan.10. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.2.3 Konsep Pendidikan Sains lingkungan Teknologi dan MasyarakatInovasi pendidikan selalu dilakukan oleh ahli pendidikan agar pendidikan siswa lebih bermakna, ini tentunya selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan masyarakat. Pendekatan pembelajaran yang inovatif yangdikembangkan oleh ahli pendidikan sekarang salah satunya adalah diintegrasikannya pendidikan berwawasan lingkungan, misalnya Pendidikan bervisi STS (Science Technology Society) berarti pendidikan bervisi Sains Teknologi dan Masyarakat, pendidikan bervisiEE (Environmental Education) berarti pendidikan lingkungan hidup, pendidikan STL (Sciencetific and Technological Literacy ) artinya pendidikan berwawasan Sains dan merujuk Teknologi. Beberapa waktu berlalu belum menampakkan hasil optimal dari pengintegrasian visi-visi tersebut dalam pendidikan. Untuk itulah perlu dikembangkan pendidikan bervisi SETS sebagai satu kesatuan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat yang tidak boleh dipisahkan. Ketergantungan terhadap produk alam untukkeperluan kehidupan sehari-hari masih cukuptinggi. Sehingga tingkat kekayaan alam yangrelatif berkurang dibandingkan dengan jumlah manusia yang membutuhkan, semakin memberi dukungan terhadap aplikasi pendidikan bervisi SETS.Pendidikan SETS ini dapat mengatasi kelemahan sistem pendidikan klasik dimana peserta didik diajak melaju untuk menyelesaikan materi pelajaran, tanpa diketahui dengan jelas implementasi peserta didik terhadap daya serap materi pelajaran (Apakah materi pelajaran dapat dikuasai keseluruhan atau sebagian, dan kompetensi dasar apa yang sudah dicapai). Sehingga Pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok dalam membekali pesertadidik, diantaranya :a. Menghindari ‘materi oriented’ dalam pendidikan tanpa tahu masalah – masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi (AFTA–2003, AFAS–2003, WTO–2010).c. Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasilteknologi dan lain-lainnya hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.d. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah – masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di dalam maupun di luar kelas.Pendidikan SETS mencakup topik maupun konsep yang berhubungan dengan sains, teknologi, lingkungan dan berbagai hal yang diperkirakan melanda masyarakat. Obyek-obyek pendidikan yang dipelajari pada akhirnya diharapkan dimengerti dengan baik korelasinya dengan keempat elemen utama SETS. Para guru diharapkan lebih berhati-hati dalam pengajarannya jika memasukkan konsep atautopik yang akan dibahas dengan teknik Pendidikan SETS. Topik tersebut harus aktualdan sesuai dengan subyek yang sedang dipelajari dan tentunya tidak bertentangan dengan kurikulum yang dibakukan. Satu hal yang paling penting, Pendidikan SETS harus dapat membawa setiap peserta didik berperan serta dalam kegiatan pembelajaran.2.4 Tujuan Pendidikan Sains lingkungan Teknologi dan MasyarakatTujuan Pendidikan SETS adalah untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan sains, teknologi -teknologi yang digunakannya, dan bagaimana perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat. Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap arah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap masyarakat dan dampak -dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak ketinggalan peranan sains untuk melahir kan konsepkonsep yang berdaya guna positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik. Jadi tujuan utama Pendidikan SETS ialah bagaimana membuat agar SETS dapat menolong manusia membuat surga dunia di muka bumi ini, bukan sebaliknya menciptakan neraka dunia dalam segala aspek kehidupan. SETS sesungguhnya harus mampu menolong setiap negara di dunia untuk mewujudkan kemakmuran bagi semua warga negaranya. Dalam memberikan pengantar Pendidikan SETS kepada peserta didik, setiap guru harusdapat menciptakan variasi pendekatan atau konsep pembelajaran yang disesuaikan tingkat kemampuan maupun obyektivitas daripendidikan SETS itu sendiri. Terhadap peserta didik, tentunya sebatas pada kemampuan kognitif, penalaran dan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Sehingga dalam pendidikan SETS,peserta didik benar-benar learning to know–learning to do–learning to be– learning to live together.Berdasarkan pemikiran Pendidikan SETS kitadapat membangun generasi muda yang melihat ke depan (futuristik) ke arah peningkatan kualitas hidup setiap anggota masyarakat.Yang perlu diperhatikan dalam membelajarkan SETS untuk major sains adalah sebagai berikut.1. Topik yang dipilih hendaknya memunculkansains yang telah dikenal dalam kurikulum, dan dititikberatkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun masyarakat.2. Hendaknya diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa kepedulian tentang keberadaan sains, teknologi, lingkungan, masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah.3. Pemilihan materi pengajaran hendaklah yang dapat membawa peserta didik ke arah ‘melek’ sains dan teknologi beserta penerapannya dan berbagai dampaknya positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, serta pada teknologi itu sendiri sehingga dapat lebih menumbuhkan kepedulian peserta didik dan tanggung jawabmereka pada pemecahan masalah lingkungan dan masyarakat.4. Pembuatan bahan evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, lingkungan yang relevan.2.5 Tahap-tahap Pendekatan SETS Secara operasional National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut.a. Tahap invitasi Pada tahap ini guru memberikan isu/ masalahaktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggalipendapat dari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.b. Tahap eksplorasiPada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasitersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatandan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkanmelalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.c. Tahap solusiPada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan.Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009). Menurut Aisyah (2007), apabila selama prosespembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.d. Tahap aplikasiSiswa diberi kesempatan untuk menggunakankonsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.e. Tahap pemantapan konsepGuru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas (2009), evaluasi dalam SETS meliputi ruang lingkup aspek:1. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari -hari.2. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalah-masalah teknologi sehari-hari.3. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat–alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat.4. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari -hari.5. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan, nutrisi, atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Menurut Yagger (1994), penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan SETS dapat dilakukan dengan menggunakan lima domain, yaitu:1. Konsep, yang meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi.2. Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan.3. Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.4. Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal.5. Sikap, mengembangkan perasaan positif dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains. 2.6    Karakteristik SETS dalam pembelajaranBiologiMenurut Binadja (2000 : 6), dalam suatu pembelajaran Biologi dengan pendekatan SETS, ada beberapa karakteristik yang perlu ditampilkan dalam pembelajaran, yaitu :1. Tetap menyampaikan pelajaran sains Biologi yang telah ditentukan2. Siswa dibawa pada situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke dalam bentukteknologi untuk kepentingan masyarakat sebagai pengguna dan pengembang teknologi3. Siswa diminta untuk menjelaskan hubunganantar unsur sains Biologi dengan unsur-unsurlain dalam SETS4. Siswa diajak untuk mencari alternatif penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh penerapan sains ke dalam bentuk teknologi tersebut ke dalam lingkungan dan masyarakat (mencari bentuk teknologi yang lebih baik)5. Dalam konteks konstruktivisme, siswa diajak berbincang tentang SETS berkaitan dengan konsep sains yang dibelajarkan, dari berbagai macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki siswa.2.7  Kelebihan SETSMenurut Ismail pendekatan SETS memiliki keunggulan sebagai berikut.a. Menghindari materi oriented dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasic. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologidan masyarakat secara integral baik di dalam ataupun di luar kelas.d. Pengajaran sains lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul di kehidupan keseharian siswa tentang peranan sains dalam kehidupan nyata.e. Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep, keterampilan, proses, kreativitas, dan sikap meghargai produk teknologi serta bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan.f. Kegiatan kelompok dapat memupuk kerjasama antar siswa dan sikap toleransi dan saling menghargai pendapat temang. Mengaplikasikan suatu gagasan atau penciptaan suatu karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun bagi perkembangan sains dan teknologi. Dengan demikian pendekatan SETS dapat membantu siswa dalam mengetahui sains, teknologi yangdigunakannya serta perkembangan sains dan teknologi dapat berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat.
4). Pemecahan masalah
Jawaban : Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Metode ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang bernama Jhon Dewey. Metode ini dinamakanProblemMethod. Sedangkan Crow&Crow dalam bukunyaHuman Developmentand Learning, mengemukakan nama metode ini denganProblem SolvingMethod.Sebagai prinsip dasar dalam metodeini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.Dalam bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.Untuk memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan sebagai berikut:
1.Mengemukakan persoalan/masakah. Guru menghadapkan masalah yang akan dipecahkan kepada peserta didik.
2.Memperjelas persoalan/masalah. Masalah tersebut dirumuskan oleh guru bersama peserta didiknya.
3.Melihat kemungkinan jawaban peserra didikbersama guru mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam memecahkan persoalan.
4.Mencobakan kemungkinan yang dianggap menguntungkan. Guru menetapkan cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
5.Penilaian cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat mendatangkan hasil yang diharapkan atau tidak.
Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1.a.Persiapana.Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.b.Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.c.Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.d.Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.e.Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik.
2.a.Pelaksanaana.Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.b.Guru meminta kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.c.Peserta didik dapat bekerja secara individual atau berkelompok.d.Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin pula tidak.e.Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian didiskusikan mengapapemecahannya tak ditemui.f.Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.g.Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.h.Membuat kesimpulan.
5). Diskusi
Jawaban : Metode diskusi dalam belajar adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa/ kelompok-kelompok siswa yang mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.Forum diskusi dapat diikuti oleh seluruh siswa di dalam kelas, dapat pula dibentuk kelompok-kelompok kecil. Yang perlu diperhatikan adalan hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif dalam setiap forum diskusi. Semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan pikirannnya,semakin banyak pula yang dapat mereka pelajari. Perlu pula diperhatikan peran guru. Apabila campur tangan dan main perintah dari guru, niscaya siswa tidak akan dapat belajar banyak.Bentuk-Bentuk DiskusiMetode diskusidalam belajar memiliki beberapa bentuk, yaitu:1.  The social problem meeting Dalam bentuk diskusi ini, para siswa berbincang-bincang memecahkan masalah sosial di kelas atau di sekolahnya dengan harapan, bahwa setiap siswa akan merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.2. The open-endet meeting Para siswa berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yang. berhubungan dengan kehidupan mereka sehari, kehidupan mereka di sekolah, dengan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan di sekitar mereka.3. The educational-diagnosis meeting Para siswa berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang telah diterimanya agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik.Langkah-Langkah DiskusiMetode diskusi dalam belajar memiliki langkah-langkah sebagaiberikut:1.Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya. 2.Dengan pimpinan guru, siswa membentuk kelompok diskusi, memilih pemimpin diskusi (ketua, sekretaris/ pencatat, pelapor dan sebagainya (bila perlu), mengatur tempat duduk, ruangan sarana dan sebagainya. 3.Para siswa berdiskusi di kelompoknya masing-masing sedangkan guru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok yang lainuntuk menjaga serta memberi dorongan dan bantuan sepenuhnya agar setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif supaya diskusi bejalan dengan lancar. 4.Kemudian tiap kelompok diskusi melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil diskusi yang dilaporkan ditanggapi oleh semua siswa (terutama bagi kelompok lain). Guru memberi ulasan dan menjelaskan tahap-tahap laporan-laporan tersebut. 5.Para siswa mencatat hasil diskusi tersebut, dan para guru mengumpulkan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok, sesudah siswanya mencatat untuk fail kelas.Peranan Guru Dalam Mempimpin DiskusiDalam proses diskusi, peranan guru sangat penting untuk memastikan diskusi berjalan dengan baik. Berikut ini peranan guru dalam metode diskusi:1. Penunjuk jalan Guru memberikan petunjuk umumdalam diskusi untuk mencapai kemajuan di dalam diskusi.. Guru merumuskan jalannya diskusi andaikata terjadi penyimpangan dari masalah. Apabila guru mengalami dalam diskusi terjadi jawaban buntu, maka guru meluangkan jalan bagi murid sehingga diskusi berjalan dengan lancar.2. Pengatur lalu lintas Guru mengajukan semua pertanyaan secara teratur untuk semua anggota diskusi, guru menjaga agar semua anggota dapat berbicara bergiliran untuk ini biasanya diadakan urutan-urutannya atau terjamin, guru menjaga supaya diskusi jangan hanya semata-mata dikuasai oleh murid-murid yang gemar berbicara, guru terhadap murid yang pendiam dan pemalu guru harus mendorongnya supaya ia berani mengeluarkan pendapatnya.3. Diding penangkis Guru atau pemimpin diskusi harusmemantulkan semua pertanyaan yang diajukan kepada semua pengikut diskusi. Dia tidak harus menjawab pertanyaan yang harusdiberikan kepadanya. Dia hanya boleh menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh pengikutdiskusi. Ini bertujuan agar semua pengikut diskusi dapat menjawabnya.
6). Tanya jawab
Jawaban : Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepadasiswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan  bahwa “metodetanyajawabadalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.” Lebih lanjut dijelaskan  pula oleh Sudirman (1987:119)  menyatakan bahwametode tanya jawabini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagisiswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.Sementara itu, dalam PetunjukTeknis Kurikulum 1994 (1996:26) dinyatakatan bahwa “metode tanya jawabadalah suatu cara mengajar atau menyajikan materimelalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut.Penggunaan metode ini denganbaik dan tepat,  akan dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaanmetode tanya jawabadalah:1)  Materi menarik dan menantang serta memiliki nilaiaplikasi tinggi.2)  Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan  dengan banyak kemungkinan jawaban).3)  Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaanjawaban-jawaban siswa.4)  Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik. (Depdikbud, 1996:26).Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwametode tanya jawabadalahsuatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.Suasana Penerapan Metode Tanya Jawab yang dikehendakiB.  Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya JawabUntuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaanmetodetanyajawabharus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :a.       Merumuskan tujuantanyajawabsejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.b.       Mencari alasan pemilihanmetodetanyajawab.c.       Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.d.       Menetapkan kemungkinanjawaban untuk menjaga agar tidakmenyimpang dari pokok persoalan.e.       Menyediakan kesempatan bertanyabagi siswa.Berdasarkan langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam menggunakanmetodetanyajawabharus dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk rencana pengajaran yang detail dengan langkah-langkah sebagai berikut:1.       Menyebutkan alasan penggunaanmetodetanyajawab.2.       Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.3.       Menyimpulkanjawaban siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.4.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanyapada hal-halyang belum dipahami.5.       Memberi pertanyaan atau kesempatan kepada siswa untuk bertanyapada hal-hal yang sifatnya pengembangan atau pengayaan.6.       Memberi kesempatan pada siswa untuk menjawabpertanyaanyang relevan dan sifatnya pengembangan atau pengayaan.7.       Menyimpulkan materijawaban yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.8.       Memberi tugas kepada siswa untuk membaca materi berikutnyadi rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada pertemuan berikutnya.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikantanyajawabadalahseorang guru dalam memberikantanyajawabharus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:a.    Ciri pertanyaan yang baik antara lain :1)    Merangsang siswa untuk berpikir.2)    Jelas dan tindak menimbulkan banyak penafsiran.3)    Singkat dan mudah dipahami siswa.4)    Disesuaikan dengan kemampuan siswa.b.    Teknik mengajukan pertanyaanantara lain :1)  Pertanyaan ditujukan pada seluruh siswa.2)  Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir.3)  Usahakan setiap siswa diberikan giliran menjawab.4)  Dilakukan dalam suasana rileks, tidak tegang.c.    Sikap guru terhadapjawaban siswa antara lain :1)    Tafsirkanjawaban siswa kearah yang baik.2)    Hargai secara wajar sekalipunjawaban siswa kurang tepat.3)    Pada saat tertentu berikan kesempatan kepada siswa lain untuk menilaijawaban yang diberikan temannya.d.    Sikap guru terhadap pertanyaan siswa antara lain :1)    Memberikan keberanian kepada siswa untuk bertanya.2)    Pertanyaan siswa perlu disusun secara keseluruhan.3)    Pertanyaan harus sesuai dengan tata tertib.Agar penggunaanmetodetanyajawabmenjadi efektif, ada beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian guru, yakni:1)      Mempersiapkan Pertanyaan:1.    Kuasai materi pelajaran yang akan ditanyakan.2.    Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang baik yang akan diajukan kepada siswa. Ciri-ciri pertanyaan yang baikadalah sebagai berikut:a.   Pertanyaan yang berhubungan dengan pokok atau topik materi yang dibahas. Dalam hal ini, yangperlu ditanyakan adalah bagian-bagian atau hal-halpenting dari topik atau pokok materi itu. Usahakanlah tidak menanyakan sesuatu yang tidak penting.b.   Pertanyaan yang mudah dipahami siswa.c.   Setiap pertanyaan hendaknya berisi hanya satu pokok pikirand.   Gunakan kalimat yang singkat. Hindarkan bahasa atau istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh siswa.e.    Pertanyaan hendaklah sesuai dengan taraf berpikir atau tingkatan siswa.f.     Pertanyaan yang tidak terlampau mengehendakijawaban atau fakta ataujawaban ya atau tidak.g.  Pertanyaan yang dapatmenumbuhkan respons bagisiswa untuk mencari dan menemukanjawabannya.h.   Sekalipun dapat dilakukan bersamaan pada waktu pengajuan pertanyaan, sebaiknya rencanakanlah bentuk ataujenis pertanyaan yang akan diajukan sesuai dengan petunjuk taksonomiBloom sebagaimana yang telah dijelaskan.Contoh Penerapan Metode Tanya Jawab2)      Mengajukan Pertanyaan Kepada SiswaDengan memperhatikan bentuk atau jenis pertanyaan yang telah direncanakan, dalam mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan petunjuk berikut ini.a.  Cara bertanyaa)    Pemberian acuan (structuring)Pertanyaan pemberian acuan (structuring) adalah bentuk pertanyaan yang didahului dengan pertanyaan yang berisi dan mendekati informasi sesuaidenganjawaban yang diharapkan, agar siswa dapat menggunakan atau mengolah informasi itu untuk menemukanjawabanpertanyaan.b)    Pemusatan (focusing)Dilihat dari scope (lingkup materi) yang ditanyakan, ada pertanyaan luas dan ada pertanyaan sempit. Dari pertanyaan luas itu kita perlu memberi tekananpada bagian-bagian tertentu yang penting dalam bentuk pertanyaan. Inilah yang dinamakan pertanyaan pemusatan (focusing).c)    Pemberian tuntunan (prompting)Bila seorang siswa memberikanjawaban yang salah atau kurang tepat, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukanjawabanyang benar.d)    Mengadakan pelacakanMengadakan pelacakan dapat digunakan guru dengan pertanyaan pelacak, yang termasuk keterampilan bertanyalanjut. Apabilajawaban yang diberikan siswa dinilaioleh guru benar, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, maka guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut. Sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan guru, yakni: (a) klarifikasi, (b) meminta siswa memberikan alasan, (c) meminta kesepakatan pandangan, (d) meminta ketepatanjawaban, (e) memintajawaban yang lebih relevan, (f) meminta contoh, dan (g) memintajawaban yang lebih kompleks.3)      Beberapa teknik yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan(1)  Mulailah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab dengan siswa. Hindarkan suasana yang tegang atau yang dapat membuat siswa tercekam rasa takut.(2)  Penyampaian pertanyaan dengan tenang tetapi bersemangat dan dengan suara yang jelas.(3)  Usahakan supaya tidak sering mengulang pertanyaan,agar semua siswa selalu penuh perhatian.(4)  Apabila terpaksa menggunakan istilah asing yang belum diketahui siswa dalam rangkaian suatu kalimat, jelaskanlah arti istilahitu, tetapi bukan penjelasan yang merupakanjawaban.(5)  Arahkan pertanyaan kepada seluruh kelas.(6)  Dalam kenyataan, pada akhir penjelasan bagian topik atau topik tertentu, guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Terhadap pertanyaan siswa ini, beberapa teknik yang dapat dilakukan guru ialah:(7)  Usahakan agar guru tidak langsung menjawabnya, maksudnya untuk merangsang berpikir siswa lainnya. Berikanlah kesempatan siswa lainnya untuk menanggapi atau menjawabnya, selanjutnya baru guru menyempurnakanjawaban itu apabila diperlukan.(8)  Rangsanglah agar banyak siswa yang bertanyaterhadap apa yang dibahas, agar siswa tidak berada dalam keraguan selamanya.4)      Bersikap yang baik terhadap jawaban siswa1.   Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk memikirkan atau mencarijawaban.2.   Jangan memaksa siswa tertentu menjawabdengan mendesaknya, sebab siapa tahu dia belum menemukanjawaban.3.   Apabilajawaban siswa tidak benar, janganlah dibesar-besarkan kesalahan atau kelemahannya, sebab itu dapat mematahkan semangatnya dan semangat siswa lainnya.4.   Berikan penguatan (reinforcement) dengan segera terhadapjawaban siswa yang ada benarnya5.   Penguatan verbal: seperti dengan kata-kata: baik, benar,bagus, tepat, atau sempurna.6.   Penguatan nonverbal; seperti dengan gerakan-gerakan mimik muka yang senyum, mengangguk-angguk, mengacungkan jempol, menepuk-nepuk badan siswa atau berjalan dengan mendekati siswa.7.   Penguatan campuran (verbal dan nonverbal); sepertisambil mengatakan benar ataubagus, ketika itu juga mengacungkan jempol atau mengangguk-anggukkan kepala dan sebagainya.Contoh Kegiatan Pembelajaran dengan Metode Tanya Jawab5)      Menilai Tanya Jawab dan Tindak LanjutSetelah berlangsungnyatanyajawabsebagai cara penyajian pelajaran kepada siswa, sebaiknya guru mengadakan penilaian yang antara lain meliputi:a)  Apakah pertanyaan yang diajukan danjawaban siswa telah terarah sesuai dengan pokok materi yang dibahas.b)  Apakah suasana cukup merangsang siswa untuk berpikir.c)  Apakah berlangsung dalamsuasana yang menyenangkan.d)  Apakahtanyajawabitu dapat membina keberanian dan keterampilan siswa dalammengemukakan pendapat.Selain itu dipandang penting pulatindak lanjut daritanyajawab, antara lain:1)  Guru sebaiknya menjelaskan kembali secara keseluruhan tentang pokok materi yang dibahas melaluiTanyajawabitu, terutama bagian-bagian penting tertentu yang kiranya perlu mendapat penekanan dan kaitan satu bagian dengan bagian-bagian lainnya.2)  Memberi tugas tertentu lebih lanjut kepada siswa dengan tujuan agar siswa memperoleh pengayaan dan pendalaman terhadap materi yang telah dibahas.
7). Penugasan
Jawaban : Metode penugasan (resitasi terstruktur) adalah pemberian tugas kepada siswa di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihanmetodemengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tesini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.Pemberiantugasini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatanpendidikan di sekolah dalam usahameningkatkan mutu dan frekuensiisi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikantugas-tugasdiluar jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan bahwa pemberiantugas-tugasberupa PR mempunyai pengaruh yang positifterhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.Salah satu strategi belajar Bahasa Indonesiayang baik adalahmemperbesar frekuensi pengulangan materi/ dengan memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat melatih diri mendayagunakan pikiran.Tampaknya pemberiantugaskepada siswa untuk diselesaikan dirumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal ini, karena dengantugasini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yangbaru didapat disekolah atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi pelajaran.Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis. Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990 : 5).Di dalam suatu kelas, tingkat kemampuan siswa cukup heterogen, sebagian dapat langsung mengeri pelajaran hanyasatu kali penjelasan oleh guru, sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya dan sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan tidak dapat mengerti sama sekali.Umumnya seorang guru mengaturkecepatan mengajarnya sesuai dengan keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian terhadap yang kurang mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian kemungkinan sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi mereka masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi. Pemberiantugas-tugasuntuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun di laboratorium akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang sesuai dengan irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang sejati bagi individu yang bersangkutan.Memberikantugas-tugaskepada siswa berarti memberi kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan yang baru saja mereka dapatkan dari guru disekolah, serta menghafal dan lebih memperdalam materi pelajaran. Perananpenugasankepada siswa sangat penting dalam pengajaran,hal ini dijelaskan oleh I. L. Pasaribu :Metodetugasmerupakan suatu aspek darimetode-metodemengajar. Karenatugas-tugasmeninjau pelajaran baru, untuk menghafal pelajaran yang sudah diajarkan, untuk latihan-latihan, dengantugasuntuk mengumpulkkan bahan, untuk memecahkan suatu masalah dan seterusnya (I. L. Pasaribu, 1986:108)Dalam memberikantugaskepada siswa, guru diharuskan memeriksadan memberi nilai. Rostiyah (1991:113) mengemukakan bahwa dengan mengevaluasitugasyang diberikan kepada siswa, akan memberi motivasi belajar siswa.Adapun prosedurmetoderesitasiterstruktur yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengajaran antara lain : memperdalam pengertian siswa terhadao pelajaran yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar mandiri, dapat membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikantugasdan memperkaya pengalaman di sekolah melalai kegiatan di luar kelas (Sri Anitah Wiryawan, 1990:30).Selanjutnya,metoderesitasiterstruktur ini dianggap efektif Imansyah Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat dilaksanakan yaitu : merumuskan tujuan khususyang hendak dicapai,tugasyang diberikan harus jelas, waktu yang disediakan untuk menyelasaikantugasharus cukup (Imansyah Alipandie, 1984:93). Sudirman (1992:145) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan” langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan pelaksanaanmetoderesitasiterstruktur yaitu:1.Tugasyang diberikan harus jelas2. Tempat dan lama waktu penyelesaiantugasharus jelas.3.Tugasyang diberikan terlebihdahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahamitugasitu berupaya untuk menyelesaikannya.4. Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitanbelajar atau salah arah dalam mengerjakantugas.5. Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau kurang bergairah mengerjakantugas(Sudirman, 1992 : 145)
8). Karya ilmiah
Jawaban: merupakan salah satu metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol.Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalahMetode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukansecara sistematisDalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap,tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematisini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan.Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.Metode ilmiah didasarkan pada data empirisSetiap metode ilmiah selalu disandarkan padadata empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabilasebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukansecara terkontrolDi saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal ataubermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.Langkah-Langkah Metode IlmiahKarena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secaraurut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metodeilmiah adalah sebagai berikut:1.Merumuskan masalah.2.Merumuskan hipotesis.3.Mengumpulkan data.4.Menguji hipotesis.5.Merumuskan kesimpulan.Merumuskan MasalahBerpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?Merumuskan HipotesisHipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.Mengumpulkan DataPengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.Menguji HipotesisSudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima ataumenolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahansuatu pengujian hipotesis itu sendiri.Merumuskan KesimpulanLangkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telahdiajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.
9). Demonstrasi                    
Jawaban : Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang sangat efektif, karena dapat membantu peserta didik untuk melihat secara langsung proses terjadinya sesuatu. Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatuproses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya atau tiruanyang sering disertai penjelasan lisan.Metode demonstrasi adalah metode mengajardi mana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta peserta didik sendiri memperlihatkan kepada seluruh anak di dalam kelas, suatu kaifiyah melakukan sesuatu.Dari beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain bahkan murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses melakukan atau jalannya suatu proses perbuatan tertentu. Contohnya proses berwudlu.
Langkah-Langkah Metode Demonstrasi. Langkah-langkah perencanaan dan persiapan yang perlu ditempuh agar metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik adalah:a. PerencanaanHal yang dilakukan adalah:
*.Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
*.Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
*.Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
*.Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri apakah:·                         - Keterangan-keterangannya dapatdidengar dengan jelas oleh peserta didik.·                
          - Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang baik sehingga setiap  peserta didik dapat melihat.·                 
- Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
*.Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.b. PelaksanaanHal-hal yang perlu dilakukan adalah:
*.Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.*.Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
*.Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
*.Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
*.Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
*.Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang harmonis. Evaluasi Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakahsudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Sedangkah langkah-langkah penerapan metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
*.Persiapkan alat-alat yang diperlukan.
*.Guru menjelaskan kepada anak-anak apa yang direncanakan dan apa yang akan dikerjakan.
*.Guru mendemonstrasikan kepada anak-anak secara perlahan-lahan, serta memberikan penjelasan yangcukup singkat.
*.Guru mengulang kembali selangkah demi selangkah dan menjelaskan alasan alasan setiap langkah.
*.Guru menugaskan kepada siswa agar melakukan demonstrasi sendiri langkah demi langkah dan disertai penjelasan.

                           






Tidak ada komentar:

Posting Komentar