NAMA : WINDA EKA LESTARI
NIM : ACC 114 059
MK : STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Tugas :
Jelaskan dan berikan ilustrasi dari teknik
pembelajaran berikut :
1). Inkuiri atau menemukan
Jawaban : metode atau teknik
pembelajaran inkuiri adalah suatu teknik atau metode pembelajaran yang
menekankan siswa dalam memperoleh informasi dengan cara proses berpikir logis
dan analitis untuk memecahkan masalah. Metode inkuiri adalah suatu cara
menyampaikan pelajaran dengan penelaahan sesuatu yang bersifat mencari secara
kritis, analisis, dan argumentative (ilmiah) dengan menggunakan langkah-langkah
tertentu menuju kesimpulan (Usman,
1993:124).Metode inkuirimemberikan perhatian dalam mendorong diri siswa
mengembangkan masalah. Sudyna (1986:21) mengemukakan bahwa inkuiri adalah
metode mengajar yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah.Metode
inkuiri merupakan metode discovery artinya suatu proses mental yang lebih
tingkatannya (Anita, 2001:1-4). Upaya mengembangkan disiplin intelektual dan
ketrampilan yang dibutuhkan siswa untuk membantu memecahkan masalah dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memperoleh jawaban atas dasar rasa ingin
tahu merupakan bagian proses inkuiri. Keterlibatan aktif secara mental dalam
kegiatan belajar yang sebenarnya. Inkuiri secara kooperatif memperkaya cara
berpikir siswa dan mendorong mereka hakekat timbulnya pengetahuan tentative dan
berusaha menghargai penjelasan.Inkuiri atau penemuan adalah proses mental
dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan,
membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya
(Oemar Hamalik, 2001:219). Penemuan yang dilakukan tentu saja bukan penemuan
yang sesungguhnya, sebab apa yang ditemukan itu sebenarnya sudah ditemukan
orang lain. Jadi penemuan disins adalah penemuan pura-pura atau penemuan siswa
yang bersangkutan saja.Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwametode inkuiriadalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang
meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa mengasimilasi
suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.
Langkah-langkah
dalam proses inkuiri adalah (Sagala, 2003:97):1.Menyadarkan peserta didik bahwa
mereka memiliki keingintahuan terhadap sesuatu. 2.Perumusan masalah yang harus
dipecahkan peserta didik. 3.Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis.
4.Mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan
atau hipotesis. 5.Menarik kesipulan jawaban atau generalisasi.
6.Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dari situasi baru.Strategi
pelaksanaan metode inkuiri Strategi pelaksanaan metode inkuiri adalah sebagai
berikut (Mulyasa 2006:235):1.Guru memberikan penjelasan, instruksi atau
pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. Sebelum memulai pelajaran guru
guru harus memahami sejauh mana peserta didik memiliki persepsi terhadap materi
tersebut. Kemudian guru dan peserta didik bersama-sama membandingkan persepsi
dengan berbagai pendapat atau teori yang sudah ada. 2.Guru memberikan tugas
kepada peserta didik untuk membaca atau menjawab pertanyaan serta
pekerjaanrumah. 3.Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan yang mungkin
membingungkan peserta didik. 4.Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah
mereka pelajari agardapat dipahami. 5.Guru memberikan penjelasan informasi
sebagai pelengkap dan ilustrasi terhadap data yang telah disajikan.
6.Mendiskusikan aplikasi dan melakukan sesuai dengan informasi tersebut.
7.Merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
2).
Konstruktivisme
Jawaban
: Teori konstruktivisme adalahsuatu teori belajar yang menekankan kepada siswa
bahwa"para siswa sebagai pembelajar tidak boleh menerima begitu saja
pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktifharus membangun
pengetahuan secara individual."
Teori ini berpandangan bahwa siswa yang berinteraksi dengan berbagai
obyek dan peristiwa akan lebih mudah memperoleh dan memahami pola-pola terhadap
obyek dan peristiwa tersebut. Dengan demikian siswa sesungguhnya mampu
membangun konseptualitas dan pemecahan masalah mereka sendiri. Oleh karena itu
kemandirian dan kemampuan berinisiatif dalam proses pembelajaran sangat
didorong untuk dikembangkan. Para ahli konstruktivisme memandang bahwa belajar
merupakan hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan mencocokan
informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka
ketahui. Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan
konstruk pemahaman mereka sendiri.
Adapun
ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah :1.Menekankan pada proses belajar
bukan mengajar.2.Mendorong terjadi kemandirian dan inisiatifbelajar pada
siswa.3.Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin
dicapai.4. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan
pada hasil.5.Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan.6. Menghargai peranan
pengalaman kritis dalam belajar.7. Menekankan konteks siswa dalam belajar.8.
Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.9. Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan
pada pengalaman nyata.10. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu pada siswa.11.
Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.12.
Berdasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip teori kognitif.13. Banyak
menggunakan terminologi kognitifuntuk menjelaskan proses pembelajaran, seperti
prediksi, infersi, kreasi dan analisis.14.Menekankan bagaimana siswa
belajar.15.Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog dan diskusi
dengan siswa lain dan guru.16.Sangat mendukung terjadinya belajar
kooperatif.17.Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata.
Dari
ciri-ciri teori konstrutivisme diatas padaaplikasinya teori ini memiliki
peranan yang baik di dalam kelas. Diantaranya teori ini mampu mendorong
kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar, maksudnya adalah dengan
menghargai gagasan-gagasan atau pemikiran siswa dalam berpikir mandiri berarti
guru membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Para siswa
yangmerumuskan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menganalisis serta
menjawabnya berati telah mengembangkantanggung jawab terhadap proses belajar
mereka sendiri serta telah menjadi pemecah masalah (problem solver). Disisi
lain dengan teori ini seorang guru mampu mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan kepada beberapa
siswa untuk merespon dan menjawabnya. Dengan aktivitastersebut teori konstruktivisme
akan lebih memudahkan seorang murid untuk menghubungkan dan merangkum
konsep-konsep melalui analisis, prediksi, justifikasi dan mempertahakan
gagasan-gagasan yang telah dijawabnya.Dari beberapa analisis diatas sebenarnya
dapat disimpulkan bahwa teori konstruktivisme mampu mendorong kemampuan siswa
untuk berpikir kritis serta terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi
bersama guru dan siswa lainnya. Selainitu siswa mampu terlibat dalam pengalaman
yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi.
3).
SETS (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat)
Jawaban
: pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains yang
mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan
SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan dan
aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membahas
tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas, dan
dapat dilihat.Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan
Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan
antara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk
melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains
dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan
pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat
teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Teknologi lingkungan dan masyarakat (SETS)
adalah pengindonesiaan dari Science-Technology-Society (STS) yang pertama kali
dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, dan selanjutnya berkembang
di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA,
mendefinisikan pendekatan ini sebagaibelajar/mengajar sains dan teknologi dalam
konteks pengalaman manusia. Dengan volumeinformasi dalam masyarakat yang terus
meningkat dan kebutuhan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
hubungannya dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih mendalam, maka
pendekatan SETS dapat sangat membantu bagi anak. Oleh karena pendekatan ini
mencakup interdisipliner konten dan benar- benar melibatkan anak sehingga dapat
meningkatkan kemampuan anak. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani
kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia
pendidikan, dan nilai–nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari
-hari.Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (SETS) dalam pandangan
ilmu-ilmu sosial danhumaniora, pada dasarnya memberikan pemahaman tentang
kaitan antara sains teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian
peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan
teknologi (Poedjiadi, 2005). Menurut Raja (2009), keputusan yang dibuat oleh
masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya.
Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan menggunakan teknologi sebagai sarana
untuk menyimpan informasi. Peranan penting yang dimiliki oleh teknologi dapat
berfungsi sebagai sarana tindakan danpenyidikan dalam pendekatan SETS. Data
juga menyiratkan sifat ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang di semua
masyarakat. Sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan
proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun
perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan
kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki
wilayah, kebutuhan, dan norma -norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan
masyarakat satu sama lain saling berinteraksi (Widyatiningtyas, 2009). Menurut
Widyatiningtyas (2009), pendekatan SETS dapat menghubungkan kehidupan
dunianyata anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar
sains. Proses pendekatan ini dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak
dalam mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan
masalah, mempertimbangkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan konsekuensi
berdasarkan keputusan tertentu.Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya
pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains
melalui pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan
tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains
merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan sains
secara khusus, yaitu untuk meningkatkan pengertianterhadap dunia alamiah(Amien,
1992 dalam Widyatiningtyas, 2009). Untuk penyusunan materi pendidikan sains,
hendaknya merupakan akumulasi dari konten,proses, dan konteks. Konten,
menyangkut hal -hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip,
teori, model, dan terminologi. Proses, berkaitan dengan metodologi atau
keterampilan untuk memperoleh dan menemukan konten. Konteks, berkaitan dengan
kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan
lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian
pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Benneth et. al.
(2005) melaporkan, bahwa pendekatan SETS merupakan pendekatan berbasis konteks
yang memiliki peranan yangsangat penting dalam memotivasi anak dan
mengembangkan keaksaraan ilmiah mereka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berkemampuan rendah.Dengan demikian,
tujuan pendekatan SETS adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi
sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan
lingkungannya (Pudjiadi, 2005).Menurut Rusmansyah (2003) dalam Aisyah (2007),
pendekatan SETS dilandasi oleh tiga hal penting yaitu:1. Adanya keterkaitan
yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.2. Proses belajar-mengajar
menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa anak
membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya
denganlingkungan.3. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri
atas ranah pengetahuan, ranah sikap,
ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi.
Program
pembelajaran dengan pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik,
sebagai berikut:1. Identifikasi masalah-masalah setempat.2. Penggunaan sumber
daya setempat yang digunakan dalam memecahkan
masalah.3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi
untuk memecahkan masalah.4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan
sekolah.5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.6. Isi dari
pembelajaran bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam
kelas7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan
dalam memecahkan masalah.8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan
dengan sains dan teknologi.9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga
negara identifikasi bagaimanasains dan teknologi berdampak di masa depan.10.
Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.2.3 Konsep Pendidikan Sains
lingkungan Teknologi dan MasyarakatInovasi pendidikan selalu dilakukan oleh
ahli pendidikan agar pendidikan siswa lebih bermakna, ini tentunya selalu
disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan
masyarakat. Pendekatan pembelajaran yang inovatif yangdikembangkan oleh ahli
pendidikan sekarang salah satunya adalah diintegrasikannya pendidikan
berwawasan lingkungan, misalnya Pendidikan bervisi STS (Science Technology
Society) berarti pendidikan bervisi Sains Teknologi dan Masyarakat, pendidikan
bervisiEE (Environmental Education) berarti pendidikan lingkungan hidup,
pendidikan STL (Sciencetific and Technological Literacy ) artinya pendidikan
berwawasan Sains dan merujuk Teknologi. Beberapa waktu berlalu belum
menampakkan hasil optimal dari pengintegrasian visi-visi tersebut dalam
pendidikan. Untuk itulah perlu dikembangkan pendidikan bervisi SETS sebagai
satu kesatuan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat yang tidak boleh
dipisahkan. Ketergantungan terhadap produk alam untukkeperluan kehidupan
sehari-hari masih cukuptinggi. Sehingga tingkat kekayaan alam yangrelatif
berkurang dibandingkan dengan jumlah manusia yang membutuhkan, semakin memberi
dukungan terhadap aplikasi pendidikan bervisi SETS.Pendidikan SETS ini dapat
mengatasi kelemahan sistem pendidikan klasik dimana peserta didik diajak melaju
untuk menyelesaikan materi pelajaran, tanpa diketahui dengan jelas implementasi
peserta didik terhadap daya serap materi pelajaran (Apakah materi pelajaran
dapat dikuasai keseluruhan atau sebagian, dan kompetensi dasar apa yang sudah
dicapai). Sehingga Pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok
dalam membekali pesertadidik, diantaranya :a. Menghindari ‘materi oriented’
dalam pendidikan tanpa tahu masalah – masalah di masyarakat secara lokal,
nasional, maupun internasional.b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik
untuk menyongsong era globalisasi (AFTA–2003, AFAS–2003, WTO–2010).c. Peserta
didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan
kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah pencemaran,
pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasilteknologi dan lain-lainnya hingga
pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.d. Membekali peserta didik dengan
kemampuan memecahkan masalah – masalah dengan penalaran sains, lingkungan,
teknologi, sosial secara integral, baik di dalam maupun di luar kelas.Pendidikan
SETS mencakup topik maupun konsep yang berhubungan dengan sains, teknologi,
lingkungan dan berbagai hal yang diperkirakan melanda masyarakat. Obyek-obyek
pendidikan yang dipelajari pada akhirnya diharapkan dimengerti dengan baik
korelasinya dengan keempat elemen utama SETS. Para guru diharapkan lebih
berhati-hati dalam pengajarannya jika memasukkan konsep atautopik yang akan
dibahas dengan teknik Pendidikan SETS. Topik tersebut harus aktualdan sesuai
dengan subyek yang sedang dipelajari dan tentunya tidak bertentangan dengan
kurikulum yang dibakukan. Satu hal yang paling penting, Pendidikan SETS harus
dapat membawa setiap peserta didik berperan serta dalam kegiatan
pembelajaran.2.4 Tujuan Pendidikan Sains lingkungan Teknologi dan MasyarakatTujuan
Pendidikan SETS adalah untuk membantu peserta didik mengetahui sains,
perkembangan sains, teknologi -teknologi yang digunakannya, dan bagaimana
perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat.
Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan
terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap
arah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga
peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap
masyarakat dan dampak -dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak
ketinggalan peranan sains untuk melahir kan konsepkonsep yang berdaya guna
positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya
terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik. Jadi tujuan utama
Pendidikan SETS ialah bagaimana membuat agar SETS dapat menolong manusia
membuat surga dunia di muka bumi ini, bukan sebaliknya menciptakan neraka dunia
dalam segala aspek kehidupan. SETS sesungguhnya harus mampu menolong setiap
negara di dunia untuk mewujudkan kemakmuran bagi semua warga negaranya. Dalam
memberikan pengantar Pendidikan SETS kepada peserta didik, setiap guru
harusdapat menciptakan variasi pendekatan atau konsep pembelajaran yang
disesuaikan tingkat kemampuan maupun obyektivitas daripendidikan SETS itu
sendiri. Terhadap peserta didik, tentunya sebatas pada kemampuan kognitif,
penalaran dan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Sehingga dalam
pendidikan SETS,peserta didik benar-benar learning to know–learning to
do–learning to be– learning to live together.Berdasarkan pemikiran Pendidikan
SETS kitadapat membangun generasi muda yang melihat ke depan (futuristik) ke
arah peningkatan kualitas hidup setiap anggota masyarakat.Yang perlu diperhatikan
dalam membelajarkan SETS untuk major sains adalah sebagai berikut.1. Topik yang
dipilih hendaknya memunculkansains yang telah dikenal dalam kurikulum, dan
dititikberatkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun
masyarakat.2. Hendaknya diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa
kepedulian tentang keberadaan sains, teknologi, lingkungan, masyarakat sebagai
satu kesatuan yang tidak terpisah.3. Pemilihan materi pengajaran hendaklah yang
dapat membawa peserta didik ke arah ‘melek’ sains dan teknologi beserta
penerapannya dan berbagai dampaknya positif atau negatif terhadap lingkungan,
masyarakat, serta pada teknologi itu sendiri sehingga dapat lebih menumbuhkan
kepedulian peserta didik dan tanggung jawabmereka pada pemecahan masalah
lingkungan dan masyarakat.4. Pembuatan bahan evaluasi hendaknya menerapkan
sains, teknologi, masyarakat, lingkungan yang relevan.2.5 Tahap-tahap
Pendekatan SETS Secara operasional National Science Teacher Association
menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut.a.
Tahap invitasi Pada tahap ini guru memberikan isu/ masalahaktual yang sedang
berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat
merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggalipendapat dari
siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.b. Tahap
eksplorasiPada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis
penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui
pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasitersebut.
Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan
dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa
dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki
isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam,
misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan
basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian
hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).Menurut
Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat
dilakukan melalui berbagai pendekatandan metode. Misalnya pendekatan
keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode
demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan
lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkanmelalui konstruksi dan
rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para
ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan
analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.c. Tahap
solusiPada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka
telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan.Proses ini termasuk komunikasi
lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut,
memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan
penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut
kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan
temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam
Raja, 2009). Menurut Aisyah (2007), apabila selama prosespembentukan konsep
dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian
pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus
melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang
penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena
konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki
retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan
oleh guru pada akhir pembelajaran.d. Tahap aplikasiSiswa diberi kesempatan
untuk menggunakankonsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan
aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.e. Tahap
pemantapan konsepGuru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang
diperoleh siswa.Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas (2009), evaluasi
dalam SETS meliputi ruang lingkup aspek:1. Pemahaman konsep sains dalam
pengalaman kehidupan sehari -hari.2. Penerapan konsep-konsep dan
keterampilan-keterampilan sains untuk masalah-masalah teknologi sehari-hari.3.
Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat–alat
teknologi yang dimamfaatkan masyarakat.4. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam
pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari -hari.5. Pembuatan
keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan, nutrisi, atau hal-hal
lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Menurut Yagger (1994),
penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan SETS dapat
dilakukan dengan menggunakan lima domain, yaitu:1. Konsep, yang meliputi
penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi.2. Proses, penggunaan proses
ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan.3. Aplikasi, penggunaan konsep
dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.4. Kreativitas,
pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk
mevalidasi penjelasan secara personal.5. Sikap, mengembangkan perasaan positif
dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains. 2.6 Karakteristik SETS dalam
pembelajaranBiologiMenurut Binadja (2000 : 6), dalam suatu pembelajaran Biologi
dengan pendekatan SETS, ada beberapa karakteristik yang perlu ditampilkan dalam
pembelajaran, yaitu :1. Tetap menyampaikan pelajaran sains Biologi yang telah
ditentukan2. Siswa dibawa pada situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke dalam
bentukteknologi untuk kepentingan masyarakat sebagai pengguna dan pengembang
teknologi3. Siswa diminta untuk menjelaskan hubunganantar unsur sains Biologi
dengan unsur-unsurlain dalam SETS4. Siswa diajak untuk mencari alternatif
penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh penerapan sains ke dalam bentuk
teknologi tersebut ke dalam lingkungan dan masyarakat (mencari bentuk teknologi
yang lebih baik)5. Dalam konteks konstruktivisme, siswa diajak berbincang
tentang SETS berkaitan dengan konsep sains yang dibelajarkan, dari berbagai
macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang
dimiliki siswa.2.7 Kelebihan SETSMenurut
Ismail pendekatan SETS memiliki keunggulan sebagai berikut.a. Menghindari
materi oriented dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat
secara lokal, nasional, maupun internasional.b. Mempunyai bekal yang cukup bagi
peserta didik untuk menyongsong era globalisasic. Membekali peserta didik dengan
kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran sains, lingkungan,
teknologidan masyarakat secara integral baik di dalam ataupun di luar kelas.d.
Pengajaran sains lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan
yang muncul di kehidupan keseharian siswa tentang peranan sains dalam kehidupan
nyata.e. Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep,
keterampilan, proses, kreativitas, dan sikap meghargai produk teknologi serta
bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan.f. Kegiatan kelompok
dapat memupuk kerjasama antar siswa dan sikap toleransi dan saling menghargai
pendapat temang. Mengaplikasikan suatu gagasan atau penciptaan suatu karya yang
dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun bagi perkembangan sains dan teknologi.
Dengan demikian pendekatan SETS dapat membantu siswa dalam mengetahui sains,
teknologi yangdigunakannya serta perkembangan sains dan teknologi dapat
berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat.
4).
Pemecahan masalah
Jawaban
: Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan
mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan
dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Metode ini diciptakan seorang ahli
didik berkebangsaan Amerika yang bernama Jhon Dewey. Metode ini
dinamakanProblemMethod. Sedangkan Crow&Crow dalam bukunyaHuman
Developmentand Learning, mengemukakan nama metode ini denganProblem
SolvingMethod.Sebagai prinsip dasar dalam metodeini adalah perlunya aktifitas
dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya
guru menjelaskan manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan
masyarakat.Dalam bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa
keaktifan peserta didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang
disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan
penggunaan metode problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode
problem solving siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa
akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.Untuk
memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan sebagai berikut:
1.Mengemukakan
persoalan/masakah. Guru menghadapkan masalah yang akan dipecahkan kepada
peserta didik.
2.Memperjelas
persoalan/masalah. Masalah tersebut dirumuskan oleh guru bersama peserta
didiknya.
3.Melihat
kemungkinan jawaban peserra didikbersama guru mencari kemungkinan-kemungkinan
yang akan dilaksanakan dalam memecahkan persoalan.
4.Mencobakan
kemungkinan yang dianggap menguntungkan. Guru menetapkan cara pemecahan masalah
yang dianggap paling tepat.
5.Penilaian
cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat mendatangkan hasil yang diharapkan
atau tidak.
Langkah-langkah
Pelaksanaan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1.a.Persiapana.Bahan-bahan
yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.b.Guru menyiapkan
alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan
persoalan.c.Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara
pelaksanaannya.d.Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang
peserta didik untuk berpikir.e.Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan
kemampuan peserta didik.
2.a.Pelaksanaana.Guru
menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.b.Guru meminta kepada
peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan
dilaksanakan.c.Peserta didik dapat bekerja secara individual atau
berkelompok.d.Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin
pula tidak.e.Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian
didiskusikan mengapapemecahannya tak ditemui.f.Pemecahan masalah dapat
dilaksanakan dengan pikiran.g.Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya
untuk analisa sehingga dijadikan fakta.h.Membuat kesimpulan.
5).
Diskusi
Jawaban
: Metode diskusi dalam belajar adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan
pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa/
kelompok-kelompok siswa yang mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan
pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas
suatu masalah.Forum diskusi dapat diikuti oleh seluruh siswa di dalam kelas,
dapat pula dibentuk kelompok-kelompok kecil. Yang perlu diperhatikan adalan
hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif dalam setiap forum diskusi. Semakin
banyak siswa terlibat dan menyumbangkan pikirannnya,semakin banyak pula yang
dapat mereka pelajari. Perlu pula diperhatikan peran guru. Apabila campur
tangan dan main perintah dari guru, niscaya siswa tidak akan dapat belajar
banyak.Bentuk-Bentuk DiskusiMetode diskusidalam belajar memiliki beberapa
bentuk, yaitu:1. The social problem
meeting Dalam bentuk diskusi ini, para siswa berbincang-bincang memecahkan
masalah sosial di kelas atau di sekolahnya dengan harapan, bahwa setiap siswa
akan merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan
kaidah-kaidah yang berlaku.2. The open-endet meeting Para siswa
berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yang. berhubungan dengan kehidupan
mereka sehari, kehidupan mereka di sekolah, dengan segala sesuatu yang terjadi
di lingkungan di sekitar mereka.3. The educational-diagnosis meeting Para siswa
berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling
mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang telah diterimanya agar masing-masing
anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik.Langkah-Langkah DiskusiMetode
diskusi dalam belajar memiliki langkah-langkah sebagaiberikut:1.Guru
mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan
seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya. 2.Dengan pimpinan guru, siswa
membentuk kelompok diskusi, memilih pemimpin diskusi (ketua, sekretaris/
pencatat, pelapor dan sebagainya (bila perlu), mengatur tempat duduk, ruangan
sarana dan sebagainya. 3.Para siswa berdiskusi di kelompoknya masing-masing
sedangkan guru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok yang lainuntuk
menjaga serta memberi dorongan dan bantuan sepenuhnya agar setiap anggota
kelompok berpartisipasi aktif supaya diskusi bejalan dengan lancar. 4.Kemudian
tiap kelompok diskusi melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil diskusi yang
dilaporkan ditanggapi oleh semua siswa (terutama bagi kelompok lain). Guru
memberi ulasan dan menjelaskan tahap-tahap laporan-laporan tersebut. 5.Para
siswa mencatat hasil diskusi tersebut, dan para guru mengumpulkan hasil diskusi
dari tiap-tiap kelompok, sesudah siswanya mencatat untuk fail kelas.Peranan
Guru Dalam Mempimpin DiskusiDalam proses diskusi, peranan guru sangat penting
untuk memastikan diskusi berjalan dengan baik. Berikut ini peranan guru dalam
metode diskusi:1. Penunjuk jalan Guru memberikan petunjuk umumdalam diskusi
untuk mencapai kemajuan di dalam diskusi.. Guru merumuskan jalannya diskusi
andaikata terjadi penyimpangan dari masalah. Apabila guru mengalami dalam
diskusi terjadi jawaban buntu, maka guru meluangkan jalan bagi murid sehingga
diskusi berjalan dengan lancar.2. Pengatur lalu lintas Guru mengajukan semua
pertanyaan secara teratur untuk semua anggota diskusi, guru menjaga agar semua
anggota dapat berbicara bergiliran untuk ini biasanya diadakan urutan-urutannya
atau terjamin, guru menjaga supaya diskusi jangan hanya semata-mata dikuasai
oleh murid-murid yang gemar berbicara, guru terhadap murid yang pendiam dan
pemalu guru harus mendorongnya supaya ia berani mengeluarkan pendapatnya.3.
Diding penangkis Guru atau pemimpin diskusi harusmemantulkan semua pertanyaan
yang diajukan kepada semua pengikut diskusi. Dia tidak harus menjawab
pertanyaan yang harusdiberikan kepadanya. Dia hanya boleh menjawab pertanyaan
yang tidak dapat dijawab oleh pengikutdiskusi. Ini bertujuan agar semua
pengikut diskusi dapat menjawabnya.
6).
Tanya jawab
Jawaban
: Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan
yang harus dijawab, terutama dari guru kepadasiswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal
ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa “metodetanyajawabadalah cara penyajian
pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada
siswa, tetapi dapat pula dari siswa
kepada guru.” Lebih lanjut dijelaskan
pula oleh Sudirman (1987:119)
menyatakan bahwametode tanya jawabini dapat dijadikan sebagai pendorong
dan pembuka jalan bagisiswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam
rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat
kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan
sebagainya.Sementara itu, dalam PetunjukTeknis Kurikulum 1994 (1996:26)
dinyatakatan bahwa “metode tanya jawabadalah suatu cara mengajar atau
menyajikan materimelalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa
memahami materi tersebut.Penggunaan metode ini denganbaik dan tepat, akan dapat merangsang minat dan motivasi
siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaanmetode tanya jawabadalah:1)
Materi menarik dan menantang serta memiliki nilaiaplikasi tinggi.2) Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan
tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan
terbuka (pertanyaan dengan banyak
kemungkinan jawaban).3) Jawaban
pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaanjawaban-jawaban siswa.4) Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik.
(Depdikbud, 1996:26).Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan
bahwametode tanya jawabadalahsuatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan
cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami
materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.Suasana Penerapan
Metode Tanya Jawab yang dikehendakiB.
Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya JawabUntuk menghindari
penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaanmetodetanyajawabharus
memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :a. Merumuskan
tujuantanyajawabsejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada
tingkah laku siswa.b. Mencari
alasan pemilihanmetodetanyajawab.c.
Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.d. Menetapkan kemungkinanjawaban untuk
menjaga agar tidakmenyimpang dari pokok persoalan.e. Menyediakan kesempatan bertanyabagi
siswa.Berdasarkan langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam
menggunakanmetodetanyajawabharus dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk
rencana pengajaran yang detail dengan langkah-langkah sebagai berikut:1. Menyebutkan alasan
penggunaanmetodetanyajawab.2.
Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran khusus.3.
Menyimpulkanjawaban siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
khusus.4. Memberi kesempatan kepada
siswa untuk bertanyapada hal-halyang belum dipahami.5. Memberi pertanyaan atau kesempatan
kepada siswa untuk bertanyapada hal-hal yang sifatnya pengembangan atau
pengayaan.6. Memberi kesempatan
pada siswa untuk menjawabpertanyaanyang relevan dan sifatnya pengembangan atau
pengayaan.7. Menyimpulkan
materijawaban yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.8. Memberi tugas kepada siswa untuk membaca
materi berikutnyadi rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada
pertemuan berikutnya.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
memberikantanyajawabadalahseorang guru dalam memberikantanyajawabharus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:a.
Ciri pertanyaan yang baik antara lain :1) Merangsang siswa untuk berpikir.2) Jelas dan tindak menimbulkan banyak
penafsiran.3) Singkat dan mudah
dipahami siswa.4) Disesuaikan dengan
kemampuan siswa.b. Teknik mengajukan
pertanyaanantara lain :1) Pertanyaan
ditujukan pada seluruh siswa.2) Memberi
waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir.3)
Usahakan setiap siswa diberikan giliran menjawab.4) Dilakukan dalam suasana rileks, tidak
tegang.c. Sikap guru terhadapjawaban
siswa antara lain :1) Tafsirkanjawaban
siswa kearah yang baik.2) Hargai
secara wajar sekalipunjawaban siswa kurang tepat.3) Pada saat tertentu berikan kesempatan
kepada siswa lain untuk menilaijawaban yang diberikan temannya.d. Sikap guru terhadap pertanyaan siswa antara
lain :1) Memberikan keberanian kepada
siswa untuk bertanya.2) Pertanyaan
siswa perlu disusun secara keseluruhan.3)
Pertanyaan harus sesuai dengan tata tertib.Agar
penggunaanmetodetanyajawabmenjadi efektif, ada beberapa hal penting yang perlu
mendapat perhatian guru, yakni:1)
Mempersiapkan Pertanyaan:1.
Kuasai materi pelajaran yang akan ditanyakan.2. Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang baik
yang akan diajukan kepada siswa. Ciri-ciri pertanyaan yang baikadalah sebagai
berikut:a. Pertanyaan yang berhubungan
dengan pokok atau topik materi yang dibahas. Dalam hal ini, yangperlu ditanyakan
adalah bagian-bagian atau hal-halpenting dari topik atau pokok materi itu.
Usahakanlah tidak menanyakan sesuatu yang tidak penting.b. Pertanyaan yang mudah dipahami siswa.c. Setiap pertanyaan hendaknya berisi hanya
satu pokok pikirand. Gunakan kalimat
yang singkat. Hindarkan bahasa atau istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh
siswa.e. Pertanyaan hendaklah sesuai
dengan taraf berpikir atau tingkatan siswa.f. Pertanyaan yang tidak terlampau
mengehendakijawaban atau fakta ataujawaban ya atau tidak.g. Pertanyaan yang dapatmenumbuhkan respons
bagisiswa untuk mencari dan menemukanjawabannya.h. Sekalipun dapat dilakukan bersamaan pada
waktu pengajuan pertanyaan, sebaiknya rencanakanlah bentuk ataujenis pertanyaan
yang akan diajukan sesuai dengan petunjuk taksonomiBloom sebagaimana yang telah
dijelaskan.Contoh Penerapan Metode Tanya Jawab2) Mengajukan Pertanyaan Kepada SiswaDengan
memperhatikan bentuk atau jenis pertanyaan yang telah direncanakan, dalam
mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan petunjuk berikut ini.a. Cara bertanyaa) Pemberian acuan (structuring)Pertanyaan
pemberian acuan (structuring) adalah bentuk pertanyaan yang didahului dengan
pertanyaan yang berisi dan mendekati informasi sesuaidenganjawaban yang
diharapkan, agar siswa dapat menggunakan atau mengolah informasi itu untuk
menemukanjawabanpertanyaan.b)
Pemusatan (focusing)Dilihat dari scope (lingkup materi) yang ditanyakan,
ada pertanyaan luas dan ada pertanyaan sempit. Dari pertanyaan luas itu kita
perlu memberi tekananpada bagian-bagian tertentu yang penting dalam bentuk
pertanyaan. Inilah yang dinamakan pertanyaan pemusatan (focusing).c) Pemberian tuntunan (prompting)Bila seorang
siswa memberikanjawaban yang salah atau kurang tepat, guru hendaknya memberikan
tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukanjawabanyang benar.d) Mengadakan pelacakanMengadakan pelacakan
dapat digunakan guru dengan pertanyaan pelacak, yang termasuk keterampilan
bertanyalanjut. Apabilajawaban yang diberikan siswa dinilaioleh guru benar,
tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, maka guru dapat
mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut. Sedikitnya ada
tujuh teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan guru, yakni: (a)
klarifikasi, (b) meminta siswa memberikan alasan, (c) meminta kesepakatan
pandangan, (d) meminta ketepatanjawaban, (e) memintajawaban yang lebih relevan,
(f) meminta contoh, dan (g) memintajawaban yang lebih kompleks.3) Beberapa teknik yang perlu diperhatikan
dalam mengajukan pertanyaan(1) Mulailah
dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab dengan siswa. Hindarkan
suasana yang tegang atau yang dapat membuat siswa tercekam rasa takut.(2) Penyampaian pertanyaan dengan tenang tetapi
bersemangat dan dengan suara yang jelas.(3)
Usahakan supaya tidak sering mengulang pertanyaan,agar semua siswa
selalu penuh perhatian.(4) Apabila
terpaksa menggunakan istilah asing yang belum diketahui siswa dalam rangkaian
suatu kalimat, jelaskanlah arti istilahitu, tetapi bukan penjelasan yang
merupakanjawaban.(5) Arahkan pertanyaan
kepada seluruh kelas.(6) Dalam
kenyataan, pada akhir penjelasan bagian topik atau topik tertentu, guru sering
memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Terhadap pertanyaan siswa ini,
beberapa teknik yang dapat dilakukan guru ialah:(7) Usahakan agar guru tidak langsung
menjawabnya, maksudnya untuk merangsang berpikir siswa lainnya. Berikanlah
kesempatan siswa lainnya untuk menanggapi atau menjawabnya, selanjutnya baru guru
menyempurnakanjawaban itu apabila diperlukan.(8) Rangsanglah agar banyak siswa yang
bertanyaterhadap apa yang dibahas, agar siswa tidak berada dalam keraguan
selamanya.4) Bersikap yang baik
terhadap jawaban siswa1. Berikan waktu
yang cukup bagi siswa untuk memikirkan atau mencarijawaban.2. Jangan memaksa siswa tertentu menjawabdengan
mendesaknya, sebab siapa tahu dia belum menemukanjawaban.3. Apabilajawaban siswa tidak benar, janganlah
dibesar-besarkan kesalahan atau kelemahannya, sebab itu dapat mematahkan
semangatnya dan semangat siswa lainnya.4.
Berikan penguatan (reinforcement) dengan segera terhadapjawaban siswa
yang ada benarnya5. Penguatan verbal:
seperti dengan kata-kata: baik, benar,bagus, tepat, atau sempurna.6. Penguatan nonverbal; seperti dengan
gerakan-gerakan mimik muka yang senyum, mengangguk-angguk, mengacungkan jempol,
menepuk-nepuk badan siswa atau berjalan dengan mendekati siswa.7. Penguatan campuran (verbal dan nonverbal);
sepertisambil mengatakan benar ataubagus, ketika itu juga mengacungkan jempol
atau mengangguk-anggukkan kepala dan sebagainya.Contoh Kegiatan Pembelajaran
dengan Metode Tanya Jawab5) Menilai
Tanya Jawab dan Tindak LanjutSetelah berlangsungnyatanyajawabsebagai cara
penyajian pelajaran kepada siswa, sebaiknya guru mengadakan penilaian yang
antara lain meliputi:a) Apakah
pertanyaan yang diajukan danjawaban siswa telah terarah sesuai dengan pokok
materi yang dibahas.b) Apakah suasana
cukup merangsang siswa untuk berpikir.c)
Apakah berlangsung dalamsuasana yang menyenangkan.d) Apakahtanyajawabitu dapat membina keberanian
dan keterampilan siswa dalammengemukakan pendapat.Selain itu dipandang penting
pulatindak lanjut daritanyajawab, antara lain:1) Guru sebaiknya menjelaskan kembali secara
keseluruhan tentang pokok materi yang dibahas melaluiTanyajawabitu, terutama
bagian-bagian penting tertentu yang kiranya perlu mendapat penekanan dan kaitan
satu bagian dengan bagian-bagian lainnya.2)
Memberi tugas tertentu lebih lanjut kepada siswa dengan tujuan agar
siswa memperoleh pengayaan dan pendalaman terhadap materi yang telah dibahas.
7).
Penugasan
Jawaban
: Metode penugasan (resitasi terstruktur) adalah pemberian tugas kepada siswa
di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya
dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.Metode resitasi terstruktur
merupakan salah satu pilihanmetodemengajar seorang guru, dimana guru memberikan
sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran.
Pemberian item tesini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar
di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di
kelas.Pemberiantugasini merupakan salah satu alternatif untuk lebih
menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh
padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat
terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatanpendidikan di sekolah dalam
usahameningkatkan mutu dan frekuensiisi pelajaran, maka sangat menyita waktu
siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32)
menyatakan bahwa untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu
memberikantugas-tugasdiluar jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan
bahwa pemberiantugas-tugasberupa PR mempunyai pengaruh yang positifterhadap peningkatan
prestasi belajar Bahasa Indonesia.Salah satu strategi belajar Bahasa
Indonesiayang baik adalahmemperbesar frekuensi pengulangan materi/ dengan
memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat
melatih diri mendayagunakan pikiran.Tampaknya pemberiantugaskepada siswa untuk
diselesaikan dirumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal
ini, karena dengantugasini akan merangsang siswa untuk melakukan
latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yangbaru didapat disekolah
atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta
membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan
sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi
pelajaran.Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip
utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka terjadilah
R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis. Lebih sering
asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan yang terjadi, makin
jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah hubungan itu (Herman
Hudoyo, 1990 : 5).Di dalam suatu kelas, tingkat kemampuan siswa cukup
heterogen, sebagian dapat langsung mengeri pelajaran hanyasatu kali penjelasan
oleh guru, sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya
dan sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan
tidak dapat mengerti sama sekali.Umumnya seorang guru mengaturkecepatan
mengajarnya sesuai dengan keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian
terhadap yang kurang mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian
kemungkinan sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi
mereka masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi.
Pemberiantugas-tugasuntuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun di
laboratorium akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang sesuai dengan
irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang sejati
bagi individu yang bersangkutan.Memberikantugas-tugaskepada siswa berarti
memberi kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan yang baru saja mereka
dapatkan dari guru disekolah, serta menghafal dan lebih memperdalam materi
pelajaran. Perananpenugasankepada siswa sangat penting dalam pengajaran,hal ini
dijelaskan oleh I. L. Pasaribu :Metodetugasmerupakan suatu aspek
darimetode-metodemengajar. Karenatugas-tugasmeninjau pelajaran baru, untuk
menghafal pelajaran yang sudah diajarkan, untuk latihan-latihan, dengantugasuntuk
mengumpulkkan bahan, untuk memecahkan suatu masalah dan seterusnya (I. L.
Pasaribu, 1986:108)Dalam memberikantugaskepada siswa, guru diharuskan
memeriksadan memberi nilai. Rostiyah (1991:113) mengemukakan bahwa dengan
mengevaluasitugasyang diberikan kepada siswa, akan memberi motivasi belajar
siswa.Adapun prosedurmetoderesitasiterstruktur yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pengajaran antara lain : memperdalam pengertian siswa terhadao
pelajaran yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar mandiri, dapat
membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih untuk menemukan
sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikantugasdan memperkaya pengalaman
di sekolah melalai kegiatan di luar kelas (Sri Anitah Wiryawan,
1990:30).Selanjutnya,metoderesitasiterstruktur ini dianggap efektif Imansyah
Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat dilaksanakan yaitu : merumuskan tujuan
khususyang hendak dicapai,tugasyang diberikan harus jelas, waktu yang
disediakan untuk menyelasaikantugasharus cukup (Imansyah Alipandie, 1984:93).
Sudirman (1992:145) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan”
langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan
pelaksanaanmetoderesitasiterstruktur yaitu:1.Tugasyang diberikan harus jelas2.
Tempat dan lama waktu penyelesaiantugasharus jelas.3.Tugasyang diberikan
terlebihdahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum
mampu memahamitugasitu berupaya untuk menyelesaikannya.4. Guru harus memberikan
bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitanbelajar atau salah arah
dalam mengerjakantugas.5. Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau
kurang bergairah mengerjakantugas(Sudirman, 1992 : 145)
8).
Karya ilmiah
Jawaban:
merupakan salah satu metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific
method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara
sistematis,empiris, dan terkontrol.Metode ilmiah merupakan proses berpikir
untuk memecahkan masalahMetode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang
perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode
ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula
berdasarkan data atau fakta khusus.
Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata.
Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus
dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya.
Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.Pada Metode Ilmiah,
proses berpikir dilakukansecara sistematisDalam metode ilmiah, proses berpikir
dilakukan secara sistematis dengan bertahap,tidak zig-zag. Proses berpikir yang
sistematisini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk
sebuah kesimpulan.Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah
metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.Metode ilmiah didasarkan pada
data empirisSetiap metode ilmiah selalu disandarkan padadata empiris. maksudnya
adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu
harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif.
Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting
dalam metode ilmiah. Apabilasebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data
empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.Pada metode ilmiah,
proses berpikir dilakukansecara terkontrolDi saat melaksanakan metode ilmiah,
proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini
adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga,
jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat
dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya
dalam keadaan berkhayal ataubermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan
terkontrol.Langkah-Langkah Metode IlmiahKarena metode ilmiah dilakukan secara
sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan
secaraurut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan
secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metodeilmiah adalah
sebagai berikut:1.Merumuskan masalah.2.Merumuskan hipotesis.3.Mengumpulkan
data.4.Menguji hipotesis.5.Merumuskan kesimpulan.Merumuskan MasalahBerpikir
ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah.
Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan
penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode
ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut,
kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana
mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila
masalahnya sendiri belum dirumuskan?Merumuskan HipotesisHipotesis adalah
jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian
berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir
ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat
memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali
pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat
penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan
peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini
dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah
dirumuskan.Mengumpulkan DataPengumpulan data merupakan tahapan yang agak
berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data
dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah
perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya.
Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan
dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung
pada data yang dikumpulkan.Menguji HipotesisSudah disebutkan sebelumnya bahwa
hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan.
Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis.
Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau
menyalahkan hipotesis, namun menerima ataumenolak hipotesis tersebut. Karena
itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu
menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang
tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu
penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan
ambang batas kesalahansuatu pengujian hipotesis itu sendiri.Merumuskan KesimpulanLangkah
paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan
perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang
telahdiajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat
deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis
data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap
cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan
temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan
rumusan masalah yang diajukannya.
9).
Demonstrasi
Jawaban
: Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang sangat efektif, karena dapat
membantu peserta didik untuk melihat secara langsung proses terjadinya sesuatu.
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan
atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatuproses, situasi atau benda
tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya atau tiruanyang sering disertai
penjelasan lisan.Metode demonstrasi adalah metode mengajardi mana seorang guru
atau orang lain yang sengaja diminta peserta didik sendiri memperlihatkan
kepada seluruh anak di dalam kelas, suatu kaifiyah melakukan sesuatu.Dari
beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu
metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain bahkan murid sendiri
memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses melakukan atau
jalannya suatu proses perbuatan tertentu. Contohnya proses berwudlu.
Langkah-Langkah
Metode Demonstrasi. Langkah-langkah perencanaan dan persiapan yang perlu
ditempuh agar metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik adalah:a.
PerencanaanHal yang dilakukan adalah:
*.Merumuskan
tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat
ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
*.Menetapkan
garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
*.Memperhitungkan
waktu yang dibutuhkan.
*.Selama
demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri apakah:· - Keterangan-keterangannya dapatdidengar
dengan jelas oleh peserta didik.·
- Semua media yang digunakan ditempatkan pada
posisi yang baik sehingga setiap peserta
didik dapat melihat.·
-
Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
*.Menetapkan
rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.b. PelaksanaanHal-hal yang
perlu dilakukan adalah:
*.Memeriksa
hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.*.Memulai demonstrasi dengan menarik
perhatian peserta didik.
*.Mengingat
pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai
sasaran.
*.Memperhatikan
keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
*.Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa
yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
*.Menghindari
ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang
harmonis. Evaluasi Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering
diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat
berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan,
mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan
evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakahsudah berjalan efektif
sesuai dengan yang diharapkan.
Sedangkah
langkah-langkah penerapan metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
*.Persiapkan
alat-alat yang diperlukan.
*.Guru
menjelaskan kepada anak-anak apa yang direncanakan dan apa yang akan
dikerjakan.
*.Guru
mendemonstrasikan kepada anak-anak secara perlahan-lahan, serta memberikan
penjelasan yangcukup singkat.
*.Guru
mengulang kembali selangkah demi selangkah dan menjelaskan alasan alasan setiap
langkah.
*.Guru
menugaskan kepada siswa agar melakukan demonstrasi sendiri langkah demi langkah
dan disertai penjelasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar